aksi aksi demonstrasi kebanyakan dimotori oleh mahasiswa karena
PADA akhirnya gerakan protes mahasiswa memang menggelinding juga langsung ke arah Presiden Soeharto. Berkali-kali kelompok-kelompok demonstran mahasiswa mendekati kediaman Presiden di Jalan Cendana, berkali-kali pula terbentur pada keketatan barisan pengamanan”. “. menjelang akhir Desember 1973, setelah suatu delegasi besar mahasiswa
Setelahsempat reda selama hampir satu minggu, mahasiswa kembali melakukan aksi demonstrasi. Isu-isu yang di munculkan selama periode ini berkenaan tidak kredibelnya cabinet pembangunan VII karena dinilai sarat dengan nepotisme dan koncoisme. dengan dimotori oleh para mahasiswa trisakti beberapa kelompok mahasiswa mengadakan aksi besar
Apakahkamu lagi mencari jawaban dari pertanyaan Aksi-aksi demonstrasi kebanyakan dimotori oleh mahasiswa karena mereka. Berikut pilihan jawabannya: Lebih pandai dalam menggerakkan massa; Memiliki sikap kritis dan peduli terhadap kondisi bangsa; Jumlahnya banyak terdiri dari mahasiswa di berbagai daerah; Selalu memiliki pemikiran yang
I 1. PENGERTIAN DEMONSTRASI SECARA UMUM. Pada dasarnya sebuah Demonstrasi merupakan suatu bentuk penyampaian aspirasi rakyat terhadap kebijakan-kebijakan yang diambi oleh pemerintah dan dipandang tidak menguntungkan bagi rakyat di sebuah Negara atau pemerintahan. Demonstrasi tidak hanya melulu berupa tindakan yang
GetTwitter Buttons Februari 2012 Oleh Fatkhuri Hampir dapat dipastikan, bahwa praktik demokrasi tidak hanya monopoli elit-elit politik terutama yang duduk di singgasana empuk di Jakarta. Saat ini, praktik demokrasi melalui pemilihan kepala daerah sebagaimana menjadi amanat undang-undang juga telah terjadi di seluruh daerah di Indonesia sejak tahun
Chord Tak Ingin Sendiri. - Demonstrasi mahasiswa dan masyarakat terjadi di beberapa kota. Di Yogyakarta, Senin 23/9/2019, ratusan mahasiswa dan masyarakat yang menamakan diri Aliansi Rakyat Bergerak melakukan aksi damai bertajuk Gejayan koordinator aksi, Nailendra, salah satu aspirasi gerakan Gejayan Memanggil adalah menyatakan mosi tidak percaya kepada DPR dan elite politik. Aliansi menggugat RKUHP yang dianggap mengebiri demokrasi. "RKUHP membungkam demokrasi dan hak asasi manusia. Salah satunya, melalui pasal yang mengatur soal 'makar'. Pasal soal makar jelas berisiko menjadi pasal karet yang akan memberangus demokrasi," tulis Aliansi Rakyat Bergerak dalam keterangan pers yang diterima rilis pers tersebut, mereka merinci sejumlah pasal karet dalam RKUHP yang bisa digunakan untuk memberangus kebebasan berekspresi dan berpendapat bagi seluruh masyarakat sipil. Pasal-pasal dalam RKUHP juga dinilai mengkriminalisasi pelbagai bentuk perlakuan masyarakat atas nama zina, hukum yang berlaku di masyarakat living law—yang berpotensi menjadi pasal karet, bahkan mengkriminalisasi gelandangan dengan pidana denda satu juta rupiah. "Pasal tersebut jelas bertentangan dengan Pasal 34 ayat 1 UUD 1945, di mana fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara," imbuh mereka. Isu lain yang juga disuarakan adalah pelemahan KPK, pembakaran hutan dan tambang, RUU Ketenagakerjaan yang tidak berpihak pada rakyat, problematika RUU Pertanahan, dan tak ketinggalan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang belum ditetapkan. Sementara itu di Jakarta, massa mahasiswa dari pelbagai universitas mengadakan demonstrasi di depan Gedung DPR RI. Massa gabungan itu datang dari Universitas Indonesia, UIN Jakarta, Universitas Atma Jaya, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Al-Azhar, dan beberapa universitas lain. Tuntutan para mahasiswa Jakarta relatif sama dengan Aliansi Rakyat Bergerak Yogykarta, yakni menolak rencana pengesahan RKUHP, UU KPK hasil revisi, dan rancangan serta revisi UU lainnya lantaran dinilai mencederai pantauan reporter Tirto, untuk mempertegas tuntutannya massa mahasiswa meneriakkan jargon-jargon keras semacam "DPR Fasis, Anti Demokrasi" dan "Cabut RUU, Darurat Demokrasi".Selain di Yogyakarta dan Jakarta, demonstrasi besar juga terjadi di Surabaya, Jombang, Malang, Cirebon, Bandung, Makassar, Riau, juga Papua. Demonstrasi mahasiswa di Bandung digelar di depan Gedung DPRD Jawa Barat. Angga Firmansyah, salah seorang koordinator aksi dari Universitas Sangga Buana YPKP Bandung menjelaskan bahwa mahasiswa menuntut Presiden Joko Widodo membatalkan sejumlah RUU bermasalah. Jika pemerintah dan DPR tak memenuhi tuntutan mahasiswa, maka mahasiswa Bandung akan mengadakan demonstrasi lebih besar lagi. "Kami akan melakukan aksi lanjutan yang massanya lebih banyak dibanding hari ini. Kami akan langsung ke Jakarta," ujar Angga sebagaimana dikutip laman CNN Indonesia. Ketika Tritura 1966 Mendesak Sukarno Bukan sekali ini saja mahasiswa berdemonstrasi secara masif menggugat pemerintah atau DPR. Sepanjang sejarah Indonesia merdeka, sudah tiga kali terjadi demonstrasi mahasiswa secara besar-besaran. Dua di antaranya mampu menumbangkan rezim yang tengah berkuasa. Kejatuhan itu pun punya persamaan, yakni dimulai dari pemimpin yang tidak mau mendengar aspirasi rakyatnya. Demonstrasi mahasiswa pertama terjadi pada awal 1966. Kala itu ribuan mahasiswa turun ke jalan, menyerukan protes atas kondisi negara yang kian memprihatinkan. Protes ini berhulu dari tragedi berdarah Gerakan 30 September 1965. Beberapa pentolan PKI terlibat dalam tragedi itu, tapi Presiden Sukarno tak berbuat apa-apa. Kemarahan rakyat telah merebak di mana-mana dan Presiden Sukarno tampaknya tidak punya solusi jitu untuk mengatasi masalah ini. Ditambah lagi, seperti diungkap Muhammad Umar Syadat Hasibuan dalam Revolusi Politik Kaum Muda 2008, keadaan sosial ekonomi negara sedang terguncang akibat konfrontasi dengan Malaysia dan persoalan Irian Barat. Kekacauan politik yang dibiarkan berlarut-larut diperparah dengan kebijakan pemerintah yang mencekik rakyat. Mereka menerbitkan kebijakan menaikkan harga sembako yang meroket 300 hingga 500 persen. “Terjadi kepanikan yang hebat dalam masyarakat, terlebih kalau diingat pada waktu itu menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru Tionghoa. Harga membubung beratus-ratus persen dalam waktu hanya seminggu. Para pemilik uang melemparkan uangnya sekaligus ke pasar, memborong barang-barang,” tulis Soe Hok Gie dalam bunga rampai esai Zaman Peralihan 2005, hlm. 4. Muak dengan pemerintah yang tak becus, mahasiswa lantas menggalang demonstrasi sejak awal Januari 1966. Gelombang demonstrasi mencapai puncaknya pada 12 Januari 1966. Ribuan mahasiswa bergerak ke Gedung Sekretariat Negara untuk memprotes kenaikan harga, dan mendesak pemerintah agar meninjau kembali aturan baru terkait ekonomi yang justru menimbulkan dampak buruk bagi rakyat. Beberapa elemen gerakan mahasiswa yang turut serta dalam demonstrasi itu antara lain Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia KAMI, Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia KAPI, Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia KAPPI, Kesatuan Aksi Buruh Indonesia KABI, Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia KASI, Kesatuan Aksi Wanita Indonesia KAWI, Kesatuan Aksi Guru Indonesia KAGI, dan lainnya. Dalam setiap aksinya, para demonstran konsisten mengajukan tiga tuntutan rakyat atau tritura 1 Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya, 2 Rombak Kabinet Dwikora, dan 3 Turunkan harga. Namun pemerintah bergeming dan berdalih semua itu butuh demonstran yang tidak segera dipenuhi, kemudian berubah menjadi desakan agar Bung Karno turun takhta. Presiden Sukarno akhirnya memang merombak kabinet pada 21 Februari 1966. Tapi karena masih ada beberapa tokoh berhaluan kiri yang dimasukkan dalam kabinet, mahasiswa pun turun ke lagi ke rasa besar-besaran jilid kedua pun akhirnya meledak. Pada 24 Februari 1966, terjadi bentrokan antara demonstran melawan Resimen Cakrabiwara pasukan pengawal presiden di depan Istana Negara. Dalam insiden itu, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran UI bernama Arif Rahman Hakim tewas tertembak. Sehari berselang, KAMI dibubarkan paksa oleh presiden sebagai konsekuensi atas kericuhan tersebut. Namun, gelora unjuk rasa anti-PKI tidak pernah padam. Sukarno yang kian terjepit akhirnya mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret 1966. Sejarah lalu mencatat, Supersemar itu nantinya justru dimanfaatkan Jenderal Soeharto untuk menggerogoti kekuasaan Sukarno. Soeharto Diguncang Malari 1974 Pada 15 Januari 1974, Presiden Soeharto dan beberapa menteri bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka di Istana Negara, Jakarta. Pada saat bersamaan, ribuan orang yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dan pelajar SMA, turun ke jalan melancarkan protes. Mereka berteriak lantang menentang derasnya investasi Jepang yang masuk ke Indonesia. Pimpinan aksi saat itu adalah Hariman Siregar, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia DM UI. Atas komandonya, para mahasiswa melakukan aksi jalan kaki dari kampus UI di Salemba, menuju Universitas Trisakti di Jalan Kiai Tapa, Jakarta Barat. Mereka mengajukan tiga tuntutan yang dinamakan “Tritura Baru 1974”, yang isinya 1 Bubarkan lembaga Asisten Pribadi Presiden Aspri, 2 Turunkan harga, 3 Ganyang korupsi. Bagi para demonstran, modal asing yang beredar di Indonesia sudah berlebihan. Menurut mereka, Tanaka berikut investasi, korporasi, dan produk-produk asal Jepang adalah bentuk imperialisme gaya mahasiswa berunjuk rasa, terjadi aksi massa yang tak terkendali di wilayah Jakarta lainnya. Salah satu yang paling mencekam terjadi di Pasar Senen. Di sana massa membakar proyek kompleks pertokoan yang baru saja dibangun. Anehnya, menurut laporan Richard Halloranjan, jurnalis New York Times, sebagian besar polisi dan tentara Indonesia yang dikirim untuk berpatroli hanya berdiri dan menonton. Mereka hampir tidak melakukan tindakan apapun untuk menghentikan para hari, peluru peringatan mulai ditembakkan ke udara. Lalu setelah malam tiba, aparat keamanan mulai bertindak kasar. Polisi mengangkut sekitar selusin demonstran ke sebuah kantor polisi terdekat. Richard menyebut ada seorang demonstran yang dipukuli di bagian belakang kepalanya. Demonstrasi dan kerusuhan masih membara hingga keesokan harinya. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sampai turun tangan menemui mahasiswa ke kampus UI di Salemba. Pada malam hari, Bang Ali berbicara kepada para mahasiswa seraya menekankan bahwa jika demonstrasi terus berlangsung, korban dari pihak mahasiswa akan berjatuhan. Bang Ali pun mengajak Hariman ke TVRI. Lewat siaran televisi itu Hariman mengumumkan bahwa persoalan yang dihadapi mahasiswa sudah selesai. Imbauan Hariman mampu meredam aksi mahasiswa. Namun, malapetaka sudah kadung terjadi. Sebanyak 807 mobil dan motor buatan Jepang hangus dibakar massa, 11 orang meninggal dunia, 300 luka-luka, 144 buah bangunan rusak berat, 160 kg emas hilang dari toko-toko perhiasan. Setelah peristiwa itu, Soeharto memecat Soemitro dari jabatan Pangkopkamtib. Ia juga membubarkan lembaga Aspri dan Ali Moertopo dipindah tugas sebagai Wakil Kepala ini juga berdampak buruk bagi kebebasan pers. Karena dianggap memberitakan Malari secara berlebihan dan memanaskan suasana, Harian Abadi, Pedoman, Indonesia Raya, Harian KAMI, dan The Jakarta Times diberedel itu, sebanyak 775 orang aktivis ditangkap. Di antaranya Hariman Siregar, Soebadio Sastrosatomo tokoh Partai Sosialis Indonesia bentukan Sutan Sjahrir yang telah lama bubar, aktivis HAM Adnan Buyung Nasution dan Princen, serta akademisi Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. Infografik Demonstran yang Mengancam Rezim. Reformasi 1998 Menumbangkan Soeharto Gerakan mahasiswa terbesar yang berhasil menumbangkan rezim Soeharto terjadi pada 1998. Gerakan ini bermula dari krisis ekonomi 1997 dan ketidaksigapan rezim Soeharto untuk mengatasinya. Gelombang aksi yang awalnya terjadi secara terpisah di beberapa kota, kemudian membesar sejak Maret 1998 seiring dengan pernyataan Soeharto bersedia dipilih lagi menjadi presiden. Sementara itu desakan reformasi lewat aksi-aksi protes meluas di seluruh daerah. Aksi itu digelar tepat pada peringatan Hari Pendidikan Nasional. Dari Jakarta, Surabaya, Bandung, Bogor, Palembang, Medan, hingga Kupang. Tak jarang demonstrasi berujung bentrok. Aksi-aksi itu membuat Wiranto-saat itu Menteri Pertahanan dan Keamanan sekaligus Panglima ABRI-mengeluarkan pernyataan yang menganjurkan “mahasiswa dan warga untuk tidak melakukan tindakan anarkis” karena memperburuk keadaan, juga “memperburuk citra Indonesia di mata dunia internasional.” “Saya melihat bagaimana perilaku masyarakat yang sementara ini lupa diri dengan melakukan kegiatan yang bersifat merusak, membakar toko, merampok toko, gudang, dan menjarah isinya. Ini mengingatkan kita bahwa sudah ada kegiatan yang tidak peduli kepada hukum,” ujar Wiranto seperti dilansir Kompas edisi 8 Mei 1998. Wiranto menuding tindakan-tindakan yang ia nilai “anarkis” itu istilah keliru yang terus dipakai hingga kini untuk menyebut tindakan ricuh karena “mahasiswa melakukan aksi demonstrasi di jalan”. “Jadi betul yang saya katakan, bahwa mahasiswa keluar kampus tentu akan dimanfaatkan pihak lain untuk mencari keuntungan yang berbeda dengan visi mahasiswa,” kemudian memerintahkan seluruh jajaran ABRI untuk “menghentikan aksi anarkis dengan melakukan tindakan tegas dan sesuai hukum”. Tapi, bukannya menurunkan tensi, mahasiswa justru semakin gencar berdemonstrasi menuntut terjadilah tragedi berdarah pada 12 Mei 1998. Empat mahasiswa Trisakti tewas tertembak kala aparat berusaha membubarkan demonstrasi di kampus tersebut. Esoknya, Jakarta dilamun kerusuhan besar. Kompas mencatat, ratusan manusia terpanggang di Toserba Yogya Klender dan di Ciledug Plaza. Tercatat 499 orang tewas dan bangunan hancur. Gelombang besar mahasiswa lalu menduduki Gedung DPR/MPR sejak 18 Mei 1998. Mereka berjanji akan bertahan di sana sampai tuntutan Sidang Istimewa segera dijalankan untuk memakzulkan Soeharto. Karena kian terjepit, Soeharto akhirnya tak bisa berbuat banyak. Pada 21 Mei 1998 ia menyatakan berhenti sebagai presiden. - Politik Penulis Fadrik Aziz FirdausiEditor Irfan Teguh
Gerakan mahasiswa di Indonesia pada tahun 1998 merupakan puncak dari perjuangan para mahasiswa dan rakyat yang pro demokrasi di akhir tahun 1990-an. Gerakan mahasiswa ini merupakan salah satu kejadian penting di Indonesia karena berhasil memaksa Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai suatu pergerakan, mahasiswa memegang peranan penting baik sebagai pencetus maupun penggerak gerakan tersebut. Dalam sistem negara yang menerapkan paham demokrasi, rakyat memegang peranan penting dalam pemerintahan. Segala keputusan yang diambil pemerintah idealnya merupakan perwujudan dari keinginan dan kepentingan rakyat. Mahasiwa merupakan sebagian kecil dari anggota masyarakat atau rakyat yang turut memegang peranan penting dalam sistem pemerintahan yang menganut paham merupakan sekelompok masyarakat yang mengenyam pendidikan di kampus yang memiliki idealisme tinggi terhadap kehidupan berpolitik, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selain idealismenya yang tinggi mahasiswa merupakan kelompok yang bersifat independen dan tidak mementingkan kepentingan pribadi atau golongannya sehingga dinilai lebh obyektif dan berpihak pada kepentingan bangsa dan negara. Mengapa aksi-aksi demonstrasi kebanyakan dimotori oleh mahasiswa? Alasannya antara lainmahasiswa memiliki idealisme yang tinggi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, mahasiswa lebih kritis dan berani melakukan tindakan protes terhadap suatu kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan rakyat, mahasiswa bersifat independen, artinya tidak memiliki keterkaitan dengan kelompok atau partai politik tertentu,mahasiswa bersifat lebih obyektif karena mengutamakan kepentingan rakyat dalam segala aksi lebih lanjut 1. Materi tentang Pengertian Reformasi Materi tentang Grakan Mahasiswa Materi tentang Gerakan Mahasiswa Pada Masa Orde Baru Jawaban Kelas IX SMPMapel IPSBab Berakhirnya Orde Baru dan Lahirnya ReformasiKode Kunci Reformasi, Gerakan Mahasiswa
Mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam menyuarakan aspirasi yang mewakili rakyat Indonesia. Aksi menyuarakan suara rakyat ini biasa dilakukan dengan pergerakan-pergerakan berupa aksi unjuk rasa atau demo, ribuan mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi bersatu untuk bisa mencapai apa yang diinginkan oleh masyarakat. Pada dasarnya, biasanya alasan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa atau demonstrasi adalah karena ada kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak memihak kepada rakyatnya. Aksi demo ditujukan kepada pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat DPR yang memiliki tanggung jawab atas kebijakan-kebijakan yang ada. Diketahui dalam sejarah, terdapat beberapa aksi demonstrasi besar mahasiswa yang pernah terjadi di Indonesia. Berikut rangkum 4 aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi masyarakat 1. Demonstrasi Tritura, tahun 1966 Baca Juga Aksi Demonstrasi di Depan Kantor Bupati Karawang, Massa Meminta Lowongan Pekerjaan Demonstrasi besar pertama yang pernah terjadi di Indonesia yaitu terjadi pada tahun 1966. Demo ini dinamakan demonstrasi Tritura dan puncak dilaksanakannya yaitu pada 12 Januari 1966. Pada masa itu, ribuan mahasiswa turun untuk melakukan unjuk rasa atas kondisi negara Indonesia yang pada masa itu terbilang memprihatinkan. Aksi tersebut diduga merupakan buntut tragedi G30S/PKI Gerakan 30 September 1965. Terdapat beberapa organisasi yang turut serta dalam gerakan tersebut, yaitu antara lain Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia KAPPI, Aksi Mahasiswa Indonesia KAMI, Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia KAPI, Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia KASI, Kesatuan Aksi Guru Indonesia KAGI, Kesatuan Aksi Buruh Indonesia KABI, Kesatuan Aksi Wanita Indonesia KAWI, dan lain sebagainya. Dalam demonstrasi Tritura ini, mahasiswa membawa setidaknya tiga tuntutan rakyat atau disebut dengan Tritura. Tuntutan tersebut antara lain, pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya, perombakan Kabinet Dwikora, dan menurunkan harga pangan. Namun diketahui tuntutan tersebut tidak direalisasikan sehingga berujung pada diturunkannya Presiden Soekarno, dan menyebabkan terjadinya demo besar-besaran jilid dua pada 24 Februari 1966. 2. Demonstrasi Reformasi, tahun 1998 Demonstrasi besar-besaran kedua terjadi pada tahun 1998. Aksi yang dinamakan demonstrasi reformasi tersebut terjadi saat adanya tuntutan untuk menurunkan pemerintahan Soeharto dan berujung pada berakhirnya Orde Baru pada tanggal 21 Mei 1998. Gerakan tersebut juga merupakan buntut dari terjadinya krisis moneter pada tahun 1997. Baca Juga Temui Ratusan Massa Demonstrasi, Bobby Nasution Didaulat Jadi Bapak Toleransi Tuntutan mahasiswa tersebut didukung oleh rakyat pada masa itu, dan demonstrasi semakin memanas ketika pemerintah mengumumkan bahwa harga BBm dan ongkos angkutan umum naik pada tanggal 4 Mei 1998.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Demonstrasi adalah salah satu bentuk penyampaian aspirasi masyarakat yang lumrah dilakukan di negara-negara penganut paham demokrasi. Di Indonesia hal ini sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 E ayat 3 yang berbunyi "setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat". Pada umumnya demonstrasi dilakukan oleh sekelompok orang atau elemen masyarakat di hadapan publik secara massal. Hal ini bertujuan antara lain untuk memprotes, memberi saran dan kritik, serta menyampaikan pendapat terhadap suatu hal atau kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Di zaman seperti saat ini, demonstrasi merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk bela negara yang dapat dilakukan. Dahulu, bela negara dilaksanakan dengan mengangkat senjata dan berperang melawan musuh tetapi saat ini dengan berbagai perkembangan yang telah terjadi bela negara juga dapat dilakukan dengan berani menyampaikan aspirasi dan berani mengkritik hal yang dianggap kurang tepat bagi kepentingan sebagai salah satu agent of change di masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan aspirasinya dan wajib untuk dapat melihat dan memahami apakah suatu sistem di pemerintahan menyimpang, berubah, atau tidak berfungsi. Dengan pemikiran yang logis dan kritis mahasiswa harus mampu dan jeli melihat segala perubahan yang baik ataupun buruk di negara ini. Bukan merupakan hal yang baru jika mendengar mengenai demonstrasi di kalangan mahasiswa. Berbagai bentuk unjuk rasa yang telah terjadi dan memberikan dampak besar di negara ini tidak terlepas dari peran serta para mahasiswa. Berbagai demontrasi besar yang pernah dimotori oleh mahasiswa antara lain Demonstrasi Tritura 1966, demonstrasi yang diikuti ribuan mahasiswa ini berisi tiga tuntutan rakyat terhadap pemerintahan Presiden Soekarno saat itu yang akhirnya diikuti dengan dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar. Selanjutnya adalah Demonstrasi Reformasi 1998, aksi ini menuntut Presiden Soeharto untuk turun dari jabatannya sebagai presiden Indonesia. Aksi besar-besaran ini berdampak besar pada kehidupan di Tanah Air, Indonesia pada saat itu memasuki babak baru yaitu Era Reformasi. Demonstrasi berikutnya adalah Demontrasi Tolak RKUHP dan Revisi UU KPK 2019, demo yang terjadi satu tahun lalu ini terjadi karena RUU KUHP dan revisi UU KPK menuai banyak pertentangan karena dianggap tidak memihak rakyat dan melemahkan fungsi-fungsi KPK. Aksi unjuk rasa yang baru-baru ini terjadi adalah Demonstrasi Tolak Omnibus Law yang dipicu oleh pengesahan UU Cipta Kerja yang menuai banyak kontroversi karena dinilai tidak memihak dan merugikan buruh/pekerja,, terlebih proses pembuatan dan pengesahannya dinilai tidak transparan serta terlalu terburu-buru karena saat ini Indonesia sedang sibuk menghadapi aksi mahasiswa turun ke jalan untuk berdemonstrasi tentunya bukan tanpa tujuan dan landasan. Salah satu tujuan yang pasti adalah untuk membela kepentingan rakyat. Ketika pemerintah melakukan sesuatu yang dianggap merugikan masyarakat, tentunya mahasiswa memiliki kewajiban untuk membela rakyat. Sebelum melakukan aksinya, mahasiswa sudah terlebih dahulu mengkaji isu-isu yang sedang terjadi. Dengan begitu, mahasiswa yang turun ke jalan benar-benar mengetahui dan memahami apa yang mereka bela dan apa tujuan orang yang masih beranggapan bahwa demonstrasi mahasiswa merupakan hal yang mengganggu dan tidak penting. Anggapan tersebut masih sering muncul di masyarakat tentunya bukan tanpa sebab, melainkan karena adanya beberapa kasus demonstrasi yang berujung ricuh. Aksi-aksi yang berujung ricuh ini pada umumnya disebabkan oleh oknum yang ingin memanfaatkan suasana dan ingin mengadu domba berbagai pihak. Kejadian-kejadian yang berakhir ricuh ini pada akhirnya membuat publik beranggapan bahwa demonstrasi merupakan hal yang mengganggu dan mencekam. Selain itu, anggapan ini masih ada di masyarakat karena mereka belum menyadari bahwa demonstrasi yang dilakukan tentunya memiliki segudang lain adalah sebagai salah satu bentuk membela negara dan kepentingan rakyat, mempelajari bagaimana menerapkan sistem demokrasi yang baik dan benar sebab kita hidup di negara demokrasi sehingga kita memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, mendorong pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan yang dianggap merugikan rakyat, membantu masyarakat sekitar untuk menyadari isu yang terjadi, dan menambah relasi. Manfaat-manfaat tersebut tentunya akan memberi dampak yang sangat besar pada jalannya pemerintahan di Indonesia. Jika pemerintahan Indonesia berjalan tanpa adanya kritik dan saran dari rakyatnya tentu sistem pemerintahan di Tanah Air akan hancur. Pemerintah tidak akan menyadari saat mereka melakukan kesalahan jika tidak ada masukan dari rakyat. Oleh karena itu, aksi demonstrasi tidak bisa dipandang sebelah mata. 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Selain aksi 11 April 2022, ada beberapa aksi demo yang besar di masa lalu. Beritahu anak yuk, Ma! Pada 11 April 2022 ini, mahasiswa seluruh Indonesia turun kejalan untuk menyuarakan aspirasi dan tuntutannya pada pemerintah. Hal ini bisa terjadi karena pemerintah dirasa tidak memihak rakyat bahkan merugikan berhubungan dengan rakyat, maka aksi ini ditujukan untuk Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat DPR, pihak pemerintahan yang bertanggung jawab atas kebijakan masyarakat heran jika kini para demonstran telah memenuhi depan Istana Presiden dan Gedung DPR. Aksi demonstrasi ini sebenarnya bukan yang pertama kali lho, Ma. Berdasarkan sejarah, ada beberapa aksi besar yang pernah digelar mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Demo apa saja ya? Berikut ini telah merangkum informsi terkait 5 demonstrasi besar yang dilakukan di Indonesia sepanjang sejarah. Simak dan beritahu si Anak yuk, Ma!1. Demonstrasi TrituraIDN Times/Muhammad Iqbal Ilustrasi suasana demonstrasi Demonstrasi besar pertama yang dilakukan mahasiswa yakni demonstrasi Tritura. Puncak demo ini dilaksanakan pada 12 Januari 1966. Terjadinya aksi ini diduga sebagai buntut dari peristiwa G30S/PKI Gerakan 30 September 1965. Pada kala itu mahasiswa turun ke jalan melakukan demonstrasi dengan membawa tiga tuntutan rakyat atau disebut dengan Tritura. Tuntutan tersebut antara lain pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya, perombakan Kabinet Dwikora, dan menurunkan harga pangan. Namun tuntutan tersebut tidak terealisasikan sehingga berujung diturunkannya Presiden Soekarno. Dalam demonstrasi Tritura ini, terdapat beberapa organisasi yang turut serta dalam gerakan tersebut, yakni Aksi Pemuda Pelajar Indonesia KAPPI, Aksi Mahasiswa Indonesia KAMI, Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia KAPI, Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia KASI, Kesatuan Aksi Guru Indonesia KAGI, Kesatuan Aksi Buruh Indonesia KABI, Kesatuan Aksi Wanita Indonesia KAWI, dan lain Picks2. Demonstrasi Aliyah Ilustrasi suasana demonstrasi Peristiwa demonstrasi Malari malapetaka 15 Januari terjadi di zaman Orde Baru, tepatnya pada 15 Januari 1974. Demonstrasi ini mulanya terjadi ketika Perdana Menteri Jepang Tanaka Kakuei datang ke Indonesia pada 14 Januari 1974, di mana saat itu sedang terjadi kisruh investasi itu mahasiswa melakukan di Bandara Halim Perdanakusuma. Namun, penjagaan aparat keamanan yang sangat ketat membuat para demonstran tak bisa masuk ke dalam bandara. Akhirnya, pada 15 Januari 1974 para mahasiswa memutuskan turun ke jalan untuk menuntut ketidaksetaraan penanaman modal asing yang menguntungkan kelompok tertentu, pemberantasan korupsi, dan tingginya harga kebutuhan pokok. Selain itu, mahasiswa juga menuntut dibubarkannya Asisten Penasehat Pribadi Aspri Presiden hingga sore hari aksi ini tak menemukan jalan keluar. Akhirnya aksi demonstrasi mulai memanas dan berakhir ricuh. Saat itu terjadi sejumlah pengrusakan, pembakaran, dan penghancuran merek mobil Jepang. Kerusuhan besar ini diduga terjadi karena pada akhirnya, kerusuhan ini menjadi malapetaka bagi masyarakat Indonesia. Ada 11 orang tewas, 137 orang luka-luka, dan 750 orang Demonstrasi ReformasiIDN Times/Anggi Muliawati Ilustrasi suasana demonstrasi Demonstrasi besar kembali terjadi pada 1998. Aksi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa ini dinamakan demonstrasi reformasi. Para mahasiswa yang mendapat dukungan besar dari para rakyat Indonesia melakukan demonstrasi ke pemerintah dengan membawa berbagai tuntutan yakni menurunkan Soeharto dari jabatannya sebagai presiden, mengadili mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, menuntut pelaksanaan amandemen UUD 1945, menuntut menghapus dwifungsi ABRI, menuntut pelaksanaan otonomi daerah secara luas, menuntut untuk melakukan penegakan supremasi hukum, dan menciptakan pemerintahan yang bersih dari besar ini meninggalkan banyak kisah pilu karena memakan banyak korban tewas, hilang, dan luka-luka. Berdasarkan data dari Tim Gabungan Pencari FaktaTGPF, kejadian demonstrasi reformasi di Jakarta memakan korban tewas mencapai orang dan korban luka-luka sebanyak 91 Demonstrasi AliyahPada tahun 2012 kala kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terjadi demonstrasi besar terkait penolakan harga BBM yang naik hingga 44 persen. Kenaikan ini disebabkan oleh pengalihan dana subsidi BBM untuk pembangunan infrastruktur. Akhirnya pada 30 Maret 2012, ribuan mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan aksi di depan istana negara. Aksi ini pun diikuti oleh ribuan buruh di Cikarang yang pada saat itu mengepung Gedung DPR Demonstrasi Tolak RUKHP dan Revisi UU KPK, tahun 2019IDN Times/Axel Jo Harianja Ilustrasi suasana demonstrasi Pada 23 September dan 24 September 2019, mahasiswa melakukan aksi besar-besaran di gedung DPR dan Istana Negara. Kala itu ribuan mahasiswa turun untuk menolak adanya revisi UU KPK yang diduga akan melemahkan KPK dan dianggap mengancam demokrasi dan Hak Asasi Manusia HAM.Itulah 5 demonstrasi besar di Indonesia sebelum terjadinya demonstrasi 11 April 2022. Semoga segala tuntutan dalam demonstrasi ini cepat terpenuhi dengan cara yang baik dan damai. Baca jugaTerjadi Demonstrasi Besar 11 April 2022, Apa Itu Demonstrasi? Begini Cara Unik dan Kreatif Gen Z Ketika BerdemonstrasiDitahan karena Berdemo, UNICEF Anak Indonesia Berhak Ekspresikan Diri
aksi aksi demonstrasi kebanyakan dimotori oleh mahasiswa karena